Kekurangan iodium merupakan masalah gizi yang cenderung meningkat di Indonesia maupun di dunia. Berbagai penelitian menunjukkan akibat gangguan kekurangan iodium (GAKI) yang paling serius antara lain adalah kerusakan otak pada fetus yang dapat mempengaruhi perkembangan neurointelektual. Hal ini tentu saja menghawatirkan perkembangan sumber daya menusia suatu bangsa.
Iodium merupakan salah satu unsur mikro yang dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit di dalam tubuh tetapi bila kekurangan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan buh, sehingga iodium disebut sebagai mineral mikro. Kebutuhan iodium pada orang dewasa sebanyak 150 mikrogram per hari (Untoro, 1999).
Berdasarkan kenyataan tersebut perlu diupayakan fortifikasi iodium bahan pangan lain yang umum di konsumsi masyarakat. Kegiatan pada tahun 2006 telah menghasilkan teknologi pembuatan beras beriodium, jenis fortifikan yang tepat untuk produksi beras beriodium, informasi sifat fisikokimia nasi beras beriodium dan daya simpan beras beriodium.
Pemilihan beras sebagai bahan untuk difortifikasi iodium, karena beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Komponen utama dari beras ialah karbohidrat (85-90%, berat kering), yang mayoritas adalah pati. Pati terdiri dari amilosa dan amilopektin, dan senyawa ini dapat berikatan dengan iodium. Oleh karena itu beras berpeluang besar untuk difortifikasi dengan iodium.
Untuk membuat beras beriodium dilakukan dengan cara pengkabutan fortifikan kedalam ruang penyosoh sewaktu proses penyosohan berlangsung. Sebelum dilakukan penyosohan terlebih dahulu gabah dibuang sekamnya dengan menggunakan alat pemecah kulit. Alat pengkabut tersebut dilengkapi dengan kompresor agar kabut yang terbentuk lebih sempurna.
Keunggulan:
* Fortifikasi iodium pada beras dapat lebih efektif dalam mengatasi beberapa penyakit karena kekurangan iodium, karena beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia.
* Teknologi fortifikasi iodium dapat dilakukan di penggilingan padi yang tersebar di hampir semua wilayah produsen padi di Indonesia.
Manfaat/Aplikasi :
* Beras beriodium akan sangat efektif untuk mengatasi penyakit yang disebabkan kekurangan iodium pada masyarakat Indonesia yang berdampak terhadap perkembangan intelektual generasi muda Indonesia.
Hasil Penelitian 2006/2007:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fortifikan iodat + bahan pengikat (dextrosa 0.04% dan sodium bikarbonat 0,006%) terpilih untuk pembuatan beras beriodium. Konsentrasi iodat + bahan pengikat (dextrosa 0,04% dan sodium bikarbonat 0,006%) yang ada pada beras beriodium 7,47 ppm serta nasi beriodium tanpa cuci sebesar 4,6 ppm dan nasi dari proses pencucian sebesar 2,65 ppm.Â
Selama dalam penyimpanan beras beriodium dengan menggunakan konsentrasi 1,0 ppm rasa nasi masih digemari dengan preferensi konsumen sebesar 90% menyatakan suka, dan 10% menyatakan tidak suka. Selama dalam penyimpanan beras beriodium, perkembangan asam lemak bebas dapat ditekan dengan menggunakan konsentrasi fortifikan 1,15 ppm dalam wadah karung warna merah.
BB-Pascapanen
Home »
» Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengolahan Beras Beriodium
Posting Komentar