SOREANG, (Pikiran Rakyat).- Eye (50), salah satu korban angin puting beliung, Rabu (13/4/2011) sore itu, nampak terlihat duduk lemas dan sesekali meringis sambil menahan rasa sakit. Bagaimana tidak, sekujur tubuh Eye penuh dengan luka goresan akibat amukan angin itu, terutama tangan kanannya yang mengalami sobek sehingga diperlukan tiga jahitan untuk menutup lukanya itu. Sambil menahan rasa sakit, Eye pun mencoba menceritakan kisah mistis di balik peristiwa yang telah meluluhlantakan kampungnya yang berada di Kp. Papanggulan RW 6, Desa Jelegong, Kec. Rancaekek, Kab. Bandung.
Eye menuturkan, ketika peristiwa itu terjadi saat dirinya sedang berjalan kaki menuju pulang ke rumahnya di Kp. Papanggulan RT 5, RW 6, Desa Jelegong. Dan, tiba-tiba ia tercegat oleh tiga angin puting beliung. Saat itu, bukannya berlari untuk menjauhi angin puting beliung itu. Sebaliknya, Eye melakukan perlawanan dengan mendekati angin tersebut.
“Keur eta, abdi kapegat angin, ku abdi dilawan we. Eh geuningan teu katahan ku nyalira. (Waktu itu saat saya jalan saya tercegat angin. Saya lawan saja angin itu, tahunya tidak mampu menahan angin itu seorang diri),” kata Eye kepada “PRLM”, di Masjid Abdurrohman, Desa Jelegong, Kec. Rancaekek, Kamis (14/4).
Akibat perbuatan nekatnya itu, ia pun harus mengakui ketangguhan angin puting beliung, yang membuatnya terbawa terbang hingga beberapa meter oleh kekuatan dasyat angin kencang itu. “Sampean abdi nepi ka luhur (kaki saya sampai keatas akibat sapuan angin itu,” tuturnya.
Hal yang berbeda dilakukan warga Kampung Linggar Jati RT 2 RW 14, Desa Jelegong, Kec. Rancaekek untuk menangkal angin yang telah meluluh lantakkan gedung SMPN 4 Rancaekek itu. Maman (56) Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Huda Kamoung Linggarjati, Desa Jelegong, Kec. Rancaekek, mengumpulkan masyarakat untuk keluar rumah dan melakukan dzikir bersama.
“Awalnya saya melihat ada angin besar di daerah Desa Bojongloa, kemudian saya secara spontan mengundang masyarakat untuk keluar rumah dan meminta untuk berdziki bersama. Ketika itu, angin puting beliung itu mendekati kita, namun tiba-tiba menghilang begitu saja. Semua itu ridho dari Allah SWT,” katanya.
Dari dua kisah itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, untuk menghadapi suatu peristiwa dan cobaan. Sepatutnya, kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah diri kepada Tuhan YME. Dan, kita sebagai makhluknya hanya bisa meminta dan memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari musibah dan marabahaya. Selain itu, jangan lupa disertai berbagai upaya agar kita bisa selamat. (A-194/das)***
Home »
» Hikmah dari dua kejadian dengan angin puting beliung
Posting Komentar